
LPM UIN Palopo. Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) bersama Pascasarjana UIN Palopo menggelar Focus Group Discussion (FGD) penguatan layanan Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Pascasarjana sebagai tindak lanjut evaluasi layanan PMB periode 2025 ganjil dan genap. Kegiatan ini dihadiri Direktur Pascasarjana Prof. Dr. Muhaemin, M.A., para ketua program studi, Kasubag Tata Usaha, serta tenaga kependidikan Pascasarjana.
FGD ini difokuskan untuk membedah capaian, hambatan, dan kebutuhan perbaikan layanan PMB Pascasarjana agar proses sosialisasi tidak berhenti pada promosi, tetapi bergerak menjadi sistem layanan yang lebih terukur, berbasis data, dan berorientasi pada tindak lanjut.
Kepala Pusat Sosialisasi dan Penerimaan Mahasiswa Baru LPM UIN Palopo, Dr. Adzan Noor Bakri, S.E.Sy., M.A.Ek., dalam pemaparannya menegaskan pentingnya membangun sistem pengelolaan data calon mahasiswa secara terpusat. Menurutnya, kerja PMB harus diarahkan agar setiap kegiatan sosialisasi menghasilkan data lead yang dapat ditindaklanjuti.
“Data itu tidak ada di orang, tapi adanya di sistem. Jadi setiap sosialisasi tidak cukup hanya membawa dokumentasi, tetapi harus membawa data yang bisa difollow up,” tegasnya dalam forum tersebut.
Berdasarkan laporan evaluasi layanan PMB Pascasarjana, pada periode 2025 Genap tercatat 92 peminat, 82 pendaftar, 79 diterima, 77 daftar ulang, dan 60 memiliki NIM. Konversi pendaftar ke NIM mencapai 73,17 persen, sedangkan konversi daftar ulang ke NIM sebesar 77,92 persen. Data kuesioner juga menunjukkan minat calon mahasiswa cukup kuat, dengan 69,14 persen responden 2025 Genap dan 70,73 persen responden 2025 Ganjil menyatakan sangat tertarik melanjutkan studi di UIN Palopo.
Meski demikian, evaluasi menunjukkan masih ada sejumlah isu yang perlu ditindaklanjuti, terutama hambatan biaya dan jarak. Pada 2025 Genap, biaya menjadi hambatan utama sebesar 43,21 persen, disusul jarak sebesar 34,57 persen. Sementara pada 2025 Ganjil, jarak menjadi hambatan terbesar sebesar 46,34 persen, disusul biaya sebesar 41,46 persen. Temuan ini mendorong perlunya informasi biaya, beasiswa, jadwal kuliah, dan akses layanan yang lebih jelas serta mudah dipahami calon mahasiswa.
Dalam diskusi, peserta FGD juga menekankan pentingnya pemetaan pasar tiap program studi, penguatan referral melalui alumni dan jejaring profesi, serta pemanfaatan media sosial yang disertai tindak lanjut. Laporan evaluasi menunjukkan bahwa sumber informasi calon mahasiswa Pascasarjana paling kuat berasal dari teman, keluarga, dan Instagram, sehingga strategi komunikasi perlu dibangun lebih personal dan berbasis komunitas.
FGD juga menyoroti update awal 2026 Ganjil yang mencatat 23 peminat dan 13 pendaftar pada Pascasarjana. Data ini dipandang sebagai prospek awal yang perlu segera dijaga melalui CRM sederhana, follow up personal, dan pendampingan administrasi agar calon mahasiswa tidak berhenti pada tahap minat. Melalui forum ini, LPM dan Pascasarjana UIN Palopo menyepakati pentingnya tindak lanjut yang lebih terorganisir, mulai dari pembenahan data lead, penyusunan informasi biaya dan beasiswa, penguatan konten promosi berbasis prodi, hingga layanan follow up sampai tahap daftar ulang dan NIM. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat mutu layanan PMB Pascasarjana sekaligus meningkatkan efektivitas penerimaan mahasiswa baru ke depan.
